![]() |
| ilustrasi campak |
SERANG – Pemerintah Provinsi Banten meningkatkan surveilans atau pemantauan kasus campak menyusul temuan ribuan kasus suspek yang mengarah pada Kejadian Luar Biasa (KLB).
Kepala Dinas Kesehatan Banten, Ati Pramudji Astuti, mengungkapkan bahwa hingga Maret 2026 tercatat lebih dari 2.000 kasus suspek campak yang tersebar di seluruh kabupaten dan kota.
“Dari pengalaman tahun 2025 dengan sekitar 6.000 suspek dan 510 kasus positif, kami menilai kondisi ini berpotensi mengarah ke KLB. Karena itu, sejak awal 2026 kami sudah melakukan langkah antisipasi,” ujarnya di Kota Cilegon, Jumat (13/3/2026).
Meski jumlah suspek cukup tinggi, sejauh ini baru satu kasus yang terkonfirmasi positif melalui pemeriksaan di Kota Tangerang.
Untuk menekan penyebaran, pemerintah daerah mengintensifkan program imunisasi campak bagi anak-anak, termasuk vaksin MR1, MR2, dan MR3. Selain itu, imunisasi kejar juga dilakukan untuk melengkapi vaksinasi anak yang belum lengkap.
Program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) dijadwalkan berlangsung pada Agustus, sementara di sejumlah wilayah seperti Pandeglang tengah dilakukan Outbreak Response Immunization (ORI) melalui penyuluhan dan vaksinasi massal.
Ati mengingatkan bahwa campak merupakan penyakit menular, sehingga masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama selama periode mudik Lebaran. Orang tua diimbau membatasi kontak langsung bayi dengan banyak orang serta menjaga kebersihan tangan.
Sebagai langkah tambahan, Dinkes Banten juga menyiapkan 94 posko kesehatan selama masa mudik. Posko tersebut menyediakan layanan pengobatan, pemeriksaan kesehatan gratis, edukasi, hingga vaksinasi campak.

Komentar
Posting Komentar